A.      FASE PRATANAM

A.1. Karakteristik Ekosistem

  • Sisa tanaman, singgang, tunggul, jerami dan gulma perlu pemusnahan
  • Awal musim hujan terdapat ulat penggerek yang istirahat selama musim kering
  • Singgang tempat bertahan Virus Tungro
  • Sisa tanaman dan jerami tempat bertahan bakteri dan cendawan (blas, hawar pelepah dan bercak coklat)
  • Gulma tempat bertahan Virus dan serangga penularnya, bakteri penyebab hawar, cendawan penyebab blas, hawar pelepah dan bercak coklat
  • Teki dan eceng gondok potensial sebagai sumber inokulum tungro  
  • Populasi OPT merupakan sumber serangan dan penularan, liang-liang tikus dan penerbangan ngengat Penggerek Batang Padi Putih dari tunggul 

A.2.    Pengamatan, Analisis Ekosistem dan Pengambilan Keputusan

Pengamatan : Wereng Coklat, Wereng Hijau, Penggerek Batang Padi, Tungro dan tanda-tanda keberadaan tikus, populasi musuh alami dan cendawan

Analisis Ekosistem dan Pengambilan Keputusan: bila ditemukan dilakukan pengendalian tikus (gropyokan), Penggerek Batang (penundaan waktu sebar benih 10 hari), Ganjur (tanam + 1,5 bualn sebelum puncak curah hujan tertinggi), Tungro (waktu tanam seawal mungkin), Anjing tanah (penggenangan lahan dan pengolahan lahan hingga rata), siput murbei (memasang ajir dan saringan pada saluran masuk air)

B.     FASE PERSEMAIAN

B.1. Karakteristik Ekosistem

   Rentan tekanan lingkungan termasuk OPT. Sering ditemukan Penggerek Batang Padi Putih, Wereng  Coklat, Tikus, Tungro dan Blas

   Populasi sering ditemukan pada persemaian musim hujan

   Serangan tikus dapat terjadi sejak benih disebar

Budidaya dan Pengelolaan Ekosistem

–     Benih sesuai kriteria

–     Pembuatan dan pemeliharaan persemaian dengan baik

–     Pengaturan air setinggi 2-5 cm

–     Hindari pestisida menjaga tetap berkembangnya musuh alami

–     Pupuk sesuai rekomendasi setempat

–     Persemaian secara berkelompok memudahkan pengelolaan persemaian atau OPT yang ada

B.2.   Pengamatan, Analisis Ekosistem dan Pengambilan Keputusan

Pengamatan : populasi kelompok telur dan ngengat penggerek batang, gejala kresek, tungro, blas, serangan tikus dan gejala kekurangan unsur hara. Khusus tikus pengamatan liang aktif, jejak jalan tikus dan kotoran tikus juga dibawah tumpukan jerami, populasi wereng hijau dengan jaring dan deteksi infeksi virus tungro dengan uji yodium tinctuur.

Analisis Ekosistem dan Pengambilan Keputusan : bila ditemukan dilakukan pengendalian penggerek batang (pengumpulan kelompok telur, penangkapan ngengat dengan lampu), tikus (pemagaran dengan plastik dikombinasi dengan bubu perangkap tikus dan gropyokan), memusnahkan bibit yang menunjukkan gejala serangan, pengumpulan dan mematikan hama yang ditemukan di persemaian, Kepinding Tanah (Pemanfaatan lampu perangkap), wereng coklat dan tungro (insektisida butiran)

C.     FASE TANAMAN MUDA

C.1. Karakteristik Ekosistem

  • Tersedia cukup sumber makanan bagi OPT karena pertumbuhan tanaman sangat pesat
  • Terjadi peningkatan populasi OPT seperti wereng coklat, wereng punggung putih, penggerek batang, hawar pelepah, busuk batang, blas, tungro, bercak coklat, bercak coklat bergaris dan hawar bakteri dan terjadi juga perkembangan musuh alami
  • Nutrisi bagi tikus tidak cocok pada fase ini
  • Saat tanaman berumur sampai dengan 30 hst peka terhadap infeksi virus tungro. Gejala Tungro terjadi pada fase ini yaitu + 2-3 minggu setelah terinfeksi oleh virus tungro.
  • Budidaya dan Pengelolaan Ekosistem
  • Tanam serentak dalam areal  yang luas. Masa serentak + 1-2 minggu
  • Jarak tanam sistem legowo (daerah kronis serangan penyakit oleh cendawan)
  • Tanaman diusahakan selalu tergenang 2-3 cm untuk waktu sampai umur 30 hst
  • Pembersihan semak tempat tikus sembunyo
  • Menghindri penggunaan pestisida
  • Pemanfaatan dan pelestarian musuh alami hama lain.
  • Pemupukan berimbang. Hindari Nitrogen berlebih. Pupuk Kalium secara simultan dapat menekan beberapa penyakit seperti hawar pelepah, hawar bakteri, bercak coklat dan blas.
  • Penyiangan secara mekanis dengan herbisida sesuai kondisi setempat.

C.2. Pengamatan, Analisis Ekosistem dan Pengambilan Keputusan

Pengamatan : pertumbuhan pertanaman untuk keperluan penyulaman, keberadaan tikus, gejala serangan tungro sebelum umur 21 hst, wereng coklat pada umur 2-5 mst, berbagai musuh alami, predator awal adalah laba-laba.

Analisis Ekosistem dan Pengambilan Keputusan : bila ditemukan dilakukan pengendalian tikus (pemagaran dengan plastik), gejala Tungro (tanaman dicabut), wereng coklat > 10 ekor per rumpun pada tanaman berumur < 40 hst atau > 20 ekor per rumpun pada tanaman umur > 40 hst (insektisida efektif), Penggerek Batang (pengumpulan kelompok telur), serangan sundep > 6 % (insektisida efektif), hama putih (pengeringan sawah selama 2-3 hari), ganjur > 5 % atau puru 2,5 % dan tingkat parasitasi < 50 % (insektisida sistemik), tanaman menunjukkan gejala serangan tungro (dimusnahkan), Ulat Grayak (penggenangan, dan bila serangan > 15 % dilakukan insektisida), Kepinding Tanah > 5 ekor/rumpun (pestisida dan penggenangan), anjing tanah (penggenangan dan pengumpanan beracun), siput murbei (pemasangan saringan pada pintu saluran air), hawar bakteri atau hawar pelepah (sanitasi selektif dan pengeringan lahan secara berkala yaitu 1 hari diairi dan 3-4 hari dikeringkan), bercak coklat (pengaturan irigasi).

D.     FASE TANAMAN TUA(Primordia-Berbunga)

D.1.  Karakteristik Ekosistem

  • Fase kritis terhadap serangan Tikus, Penggerek Batang, Wereng Coklat dan Penyakit Tanaman
  • Serangan Penggerek Batang mengakibatkan Beluk dan tidak dapat disembuhkan lagi. Pestisida tidak dianjurkan lagi
  • Serangan Tikus saat primordia dan Bunting. Musim kawin Tikus saat tanaman fase generatif
  • Gejala awal penyakit oleh bakteri dan cendawan dan tanaman yang terinfeksi sulit dikendalikan
  • Hama ganjur tidak mampu lagi merusak tanaman
  • Virus Tungro yang menginfeksi tidak lagi mempengaruhi kehilangan hasil panen tetapi akan menghasilkan gejala pada saat singgang dan menjadi sumber inokulum bagi persemaian dan pertanaman muda yang di sekitarnya.
  • Budidaya dan Pengelolaan Ekosistem
  • Hindari pestisida yang tidak perlu guna perlindungan musuh alami
  • Di daerah endemis ulat grayak ditaruh pelepah pisang sebagai tempat berlindung ulat grayak atau dilakukan penggenangan sehingga ulat grayak naik dan mudah untuk mengumpulkan dan mematikannya. Aplikasi insektisida bila intensitas serangan > 15 % kerusakan daun
  • Memelihara kebersihan lingkungan yang diduga persembunyian tikus
  • Pengaturan air sawah selang 9 hari memberikan keadaan yang tidak menguntungkan bagi OPT kecuali bila terserang Tungro

D.2.  Pengamatan, Analisis Ekosistem dan Pengambilan Keputusan

Pengamatan : Diamati perkembangan OPT secara lebih seksama. Serangan Berat OPT pada fase ini berakibat fatal penurunan produksi yang sngat drastis. Diamati ratio antara OPT dan musuh alami untuk penentuan perlu tidaknya pengendalian secara kimiawi. Diamati serangan tikus dan memperkirakan kepadatan populasinya, juga dilakukan pencarian liang aktif untuk menetapkan tempat pengemposan dengan asap belerang/asap beracun.

Analisis Ekosistem dan Pengambilan Keputusan : bila ditemukan dilakukan pengendalian tikus (pemagaran dengan plastik dikombinasikan dengan bubu untuk menangkap tikus), wereng coklat > 20 ekor per rumpun pada tanaman umur > 40 hst (insektisida efektif) dan bila ditemukan predator laba-laba (Lycosa) 2 ekor/rumpun pengendalian ditunda 1 minggu, Penggerek Batang (pencabutan beluk segar dan dimusnahkan), serangan sundep > 6 % (insektisida efektif), hama putih palsu/pelipat daun dengan intensitas > 15 % pada daun bendera (insektisida), Ulat Grayak (penggenangan), hawar bakteri atau hawar pelepah (sanitasi selektif dan pengeringan lahan secara berkala yaitu 1 hari diairi dan 3-4 hari dikeringkan), blas (fungisida 2 minggu sebelum keluar malai mencegah neck blas), bercak coklat (pengaturan irigasi), babi hutan (perburuan dengan anjing, tombak dan jaring paja atau plastik), walang sangit/hama pengisap bulir > 10 ekor/m2 (pengendalian) .

E.     FASE PEMATANGAN BULIR

E.1. Karakteristik Ekosistem

  • Ketersediaan makanan bagi hama pengisap bulir sangat melimpah
  • Fase yang sangat kritis bagi kerusakan tanaman seperti wereng coklat, penggerek batang dan tikus. Walang sangit berpindah dari semak/rumput ke pertanaman
  • Ulat Grayak bergerombol mulai menginfestasi pertanaman
  • Pengolahan air sawah akan sangat berpengaruh besar terhadap proses pengisian dan pemasakan bulir.
  • Budidaya dan Pengelolaan Ekosistem
  • Menjaga pelestarian musuh alami dengan menghindari penggunaan pestisida
  • Menjaga kebersihan lingkungan terutama tempat yang diduga persembunyian tikus
  • Pengaturan air sawah dan pengeringan air saat pemasakan bulir dapat mempercepat proses dan mempersempit waktu kemungkinan terserang hama pengisap bulir
  • Daerah kronis serangan PBPP, pemotongan jerami pada saat panen setinggi maksimal 5 cm.

E.2. Pengamatan, Analisis Ekosistem dan Pengambilan Keputusan

  • Pengamatan : Diamati populasi hama maupun gejala serangan penyakit yang merusak bulir dan malai seperti walang sangit, kepik hijau, ulat grayak, burung dan pengamatan terhadap musuh alaminya serta penyakit blas. Pengamatan lebih seksama terhadap hama yang diketahui sejak awal tumbuh tanaman sudah berada atau menyerang pertanaman seperti wereng coklat, penggerek batang dan tikus.
  • Analisis Ekosistem dan Pengambilan Keputusan : bila ditemukan dilakukan pengendalian tikus (pengemposan dengan asap belerang/asap beracun), Penggerek Batang (pencabutan beluk segar dan dimusnahkan), walang sangit/hama pengisap bulir > 10 ekor/m2 (insektisida atau pemasangan perangkap bangkai kepiting atau tulang-tulang di persawahan untuk memerangkap walang sangit untuk dijaring dan dimatikan atau disemprot) .

Disampaikan oleh :
Ir. Ruth Kristina Tarigan

Pada Pelatihan Pemandu Lapangan SLPTT Padi

Di Hotel Royal Perintis, Medan

Yang diikuti Oleh Penulis