Morfologi dan Biologi :

Keong ini berjenis kelamin tunggal. Perkawinan keong mas dapat dilakukan sepanjang musim. Seekor keong mas dapat memproduksi sekitar 1.000-1.200 butir telur tiap bulan atau 200-300 butir tiap minggu.

  Telur keong mas berwarna merah jambu     diletakkan malam hari secara berkelompok dirumpun padi dekat pematang sawah, tumbuhan liar yang ada dipematang, benda lain seperti ranting. Satu kelompok telur terdiri dari 159-500 butir . Telur menetas setelah 7-14 hari. Keong mas muda yang baru menetas berukuran 1,7-2,2 mm langsung meninggalkan cangkang telur dan masuk kedalam air. Dua hari kemudian cangkang keong tersebut sudah menjadi keras. Keong mas muda berukuran 2-5 mm memakan alga dan bagian tanaman yang lunak. Pertumbuhan awal berlangsung selama 15-25 hari.

Keong Mas

Pada umur 26-59 hari keong mas sangat rakus dalam mengkonsumsi makanan. Periode perkembangannya sangat panjang mulai dari umur 60 hari sejak menetas sampai umur 3 tahun. Keong mas memerlukan waktu sekitar 3-4 jam pada saat melakukan perkawinan pada saat di daerah yang mendapat air sepanjang tahun. Apabila sawah dikeringkan maka keong mas akan menyusup kedalam tanah hingga kedalam 30 cm dan melakukan diapause. Setelah sawah digenangi maka keong mas akan bermunculan ke permukaan tanah. Keong mas dapat bertahan dalam tanah tanpa makan untuk jangka waktu sampai 6 bulan.Keong mas dewasa memiliki cangkang yang berdiameter sekitar 40 mm dan berat 10-20 gram.

Kerusakan

Keongmas menyerang tanaman padi sejak di persemaian maupun tanaman berumur dibawah 4 MST. Pada tanaman tua (di atas 4 MST) keongmas cenderung merusak anakan padi. Peningkatan populasi hama keongmas sangat cepat. Proses perkembangan telur hingga menetas menjadi siput-siput kecil membutuhkan waktu 7–14 hari dan jumlah telur yang menetas mencapai 80%. Hama ini terbilang ganas dan keongmas muda (ukuran kecil sampai sedang) tergolong paling ganas menyerang tanaman padi baik di persemaian maupun tanaman padi di sawah, dibandingkan dengan keongmas dewasa.

Kondisi Lahan

Keongmas hidupnya sangat tergantung pada air dan umumnya berkembang pesat pada areal yang tergenang. Apabila lahan berada dalam kondisi tergenang, keongmas akan berkembang cepat dan bila lahan dalam keadaan kering, hama ini masih dapat hidup dengan beristirahat di dalam tanah. Keongmas mampu bertahan hidup dalam tanah sampai 6 bulan lamanya, dan jika mendapat pengairan ia akan berkembang biak kembali.

Cara Pengendalian

Hama keongmas termasuk sulit untuk dibasmi secara tuntas. Bila pengendalian dilakukan dengan menggunakan pestisida, keongmas memang dapat terbunuh, tetapi cangkang atau rumahnya akan tertinggal di dalam tanah dan menimbulkan masalah bagi petani yaitu melukai telapak kaki apabila petani masuk ke areal sawah, sehingga petani perlu kegiatan tambahan untuk mengumpulkan cangkang di areal yang telah diberi pestisida. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan (tahun 1999 dan 2000) menunjukkan bahwa pengendalian dengan bahan kimia, biologi, dan mekanik secara statistik tidak berbeda nyata. Hasil kajian terhadap lingkungan, kepraktisan kerja, mudah dilaksanakan, dan murah, maka pengendalian keongmas dianjurkan dengan cara pemungutan berkala (seminggu 3 kali), pemberian umpan perangkap, pemasangan perangkap telur, dan pelepasan itik ke lahan sawah. Beberapa cara pengendalian di atas, mampu mengendalikan perkembangan hama ini sehingga tidak menimbulkan kerusakan terhadap tanaman padi, dan populasinya berada di bawah ambang ekonomi.

Kemauan Petani

Hama ini tidak menurun populasinya bila pengendalian dilakukan secara individu, oleh karena itu pengendaliannya harus dilakukan secara kelompok dalam satu hamparan. Keikutsertaan petani secara kelompok dalam pengendalian hama ini menjadi penting, karena keongmas bermigrasi sesuai aliran air dan masuk ke sawah bersama dengan pemasukan air ke lahan. Pengendalian secara persial oleh satu atau dua petani tidak akan mampu mengendalikan hama ini.

Stadium paling merusak adalah ketika keong mas berukuran 10 mm hingga ukuran 40 mm. Keng mas merusak tanaman padi dengan memarut jaringan padi dan memakannya. Bekas potongan daun dan batang yang terserang terlihat mengambang. Keong mas sangat berbahaya terutama pada tanaman padi muda, baik dipersemaian maupun baik bibit yang baru dipindahkan disawah. Dengan kepadatan populasi sekitar 10-15 ekor permeter persegi, keong mas dapat menghabiskan padi muda dalam waktu 3 hari jika air sawah dalam keadaan tergenang sihingga menimbuk=lkan kerusakan yang cukup tergenang

Waktu kritis untuk mengendalikan keong mas adalah pada saat 10 hari setelah tanaman pindah, atau 10 hari setelah tanam pindah atau setelah 21 hari setelah sebar benih (benih basah). Setelah itu laju pertumbuhan tanaman lebih besar daripada laju kerusakan oleh keong mas.

Bila terjadi invasi keong mas, sawah segera dikeringkan karena keong mas menyenangi tempat-tempat yang digenangi air. Jika petani menanam dengan sistem tanam pindah maka pada 15 hari setelah tanam pindah , sawah perlu dikeringkan kemudian digenangi lagi secara bergantian.

1. Bebek/itik memakan keong mas muda

Bebek/itik yang ditempatkan disawah selama persiapan tahap akhir sebelum tanaman dapat menurunkan populasi keong mas. Pengendalian cara ini merupakan pengendalian alamiah dimana itik dilepaskan ke areal sawah setelah ditanami padi sampai dengan tanaman berumur 45 hari setelah tanam. Bebek/itik dapat mengendalikan hama keongmas sehingga tidak merusak tanaman. Untuk meningkatkan efektivitas pengendalian, areal sawah perlu dibuat macak-macak sampai tergenang dengan ketinggian air 5 cm. Bebek/itik dilepaskan ke areal sawah dan selanjutnya akan memangsa keongmas (ukuran kecil dan sedang) serta membunuh keongmas besar. Dalam satu hektar dapat dilepaskan Bebek/itik sekitar 25 ekor atau lebih. Pelepasan Bebek/itik dilakukan pagi dan sore hari. Sesungguhnya pelepasan Bebek/itik ke lahan sawah memberi manfaat ganda. Pertama, perkembangan keongmas dan hama-hama lain dapat terkendali, dan ke dua, dapat memperbaiki aerasi di sekitar perakaran padi. Keadaan tersebut dapat memperbanyak anakan produktif sehingga produksi tanaman menjadi lebih banyak.

2. Pembuatan caren atau saluran kecil

Dengan lebar 15-25 cm dan kedalam 5 cm didalam dan disekeliling petakan sawah sebelum tanam baik dimusim hujan maupun dimusim kemarau. Ini dimaksud agar dalam pengeringan , keong mas akan menuju caren sehingga memudahkan pengambilan keong mas.

3. Mengeringkan sawah berkali-kali untuk mengurangi aktivitas perpindahan dan perusakan.

Jika petani menanam dengan sistem tanam pindah, maka 15 hari setelah tanam pindah, sawah perlu dikeringkan kemudian digenangi lagi secara bergantian (flash flood intermitten irrigation). Bila petani menanam dengan sistem tabela (tanam benih secara langsung), selama 21 hari setelah tebar benih, sawah perlu dikeringkan kemudian digenangi lagi secara bergantian (BPTP, 2003)

4.  Pemasanga saringan kawat atau anyaman bambu padasaluran masuk atau keluar irigasi utama dapat mencegah masuknya keong mas dari lahan lain.

5. Pengendalian dengan umpan perangkap serta dikombinasikan dengan pemungutan keongmas secara berkala baik di areal sawah maupun pada umpan perangkap merupakan salah satu cara yang juga dapat menekan populasi hama tersebut. Apalagi pemberian umpan perangkap dan dikombinasikan pula dengan pemasangan perangkap telur sangat besar pengaruhnya terhadap penekanan populasi hama keongmas. Umpan perangkap keongmas dapat digunakan daun, tangkai, dan batang pepaya, daun kuda-kuda (on geureundong pageu), dan lain-lain. Makanan perangkap tersebut diletakkan secara berjejer di dalam petakan sawah baik sebelum tanam maupun setelah ditanami padi sampai padi berumur 5 minggu setelah tanam. Hal ini tergantung pada banyaknya keongmas yang terdapat di petakan sawah. Jarak antara satu umpan perangkap dengan yang lain antara 1-2 meter dan banyaknya umpan perangkap yang diberikan tergantung pada persedian umpan dan populasi hama tersebut. Untuk memudahkan pemungutan, umpan perangkap sebaiknya ditempatkan dekat dengan pematang. Makin banyak pemberian umpan perangkap lebih baik sehingga hama tersebut akan berkumpul pada umpan perangkap dan lebih mudah dipungut. Selanjutnya keongmas yang terdapat pada umpan perangkap dipungut dan dibuang secara berakala. Sangat dianjurkan keongmas hasil pungutan tersebut diberikan sebagai tambahan pakan itik. Untuk meningkatkan efektivitas pengendalian perlu pula dikombinasikan dengan pemasangan perangkap telur, sehingga keongmas dan kelompok telur yang menempel baik pada tiang atau di tempat lain segera dibuang, dengan demikian kombinasi perlakuan tersebut akan menjadi lebih efektif. Pengambilan keong mas secara langsung dengan tangan dari sawah pada pagi dan sore hari ketika keong dalam keadaan aktif dan mudah diambil. Di Provinsi Gorontalo, kelompok tani bekerja sama dengan LSM mengadakan lomba pemungutan keong mas antarkelompok tani. Di Tangerang, keong diambil satu per satu, dimasukkan dalam ember dan dijual dengan harga Rp 300,00 per kilogram ke peternak bebek. Di Brebes, seorang petani bisa mengumpulkan sekitar 2 ember keong mas, dan di Kecamatan Margadana (Tegal), seorang petani dapat mengumpulkan keong  mas rata-rata 20-30 kg selama 4 jam.

6. Menggunakan tumbuhan yang mengandung racun bagi keong mas.

Misalnya daun sembung (Blumea balsamifera), daun/akar tuba, daun eceng gondok (Monochoria vaginalis), daun tembakau (Nicotiana tabacum), daun calamansi atau jeruk (Citrus microcarpa), daun makabuhay (Tinospora rumphii), dan cabai merah. Selain itu, beberapa tanaman lain yang juga dapat digunakan untuk memberantas keong mas adalah starflower (Calotropis gigantis), nimba (Azadirachtha indica), dan asyang (Mikania cordata) yang mengandung bahan yang dapat membunuh keong mas. Berbagai tumbuhan tersebut dianjurkan diaplikasikan sebelum penanam padi. Saluran kecil dibuat agar keong mas berada di dalam saluran tersebut dan selanjutnya di atas saluran tersebut tempatkan tumbuhan yang disebutkan di atas.

7. Menggunakan atraktan

Seperti daun talas (Cococasia esculenta), daun pisang (Musa paradisiaca), daun pepaya (Carica papaya), bunga terompet, dan koran bekas, supaya mudah mengumpulkan keong tersebut. Daun sebagai atraktan diletakkan dalam petakan sawah secara berjejer, berjarak 1-2 meter antar umpan, yang dilakukan sebelum panen sampai 5 minggu setelah tanam. Jumlah atraktan sebagai umpan yang diperlukan sekitar 40 kilogram per hektare. Tinggi air di sawah disarankan sekitar 5-10 centimeter (BP2TP NAD, 2004)

8. Batu tohor sebanyak 50-100 kg/ha dapat ditebarkan pada lahan persawahan untuk mengurangi dan mematikan keong mas.

9. Beberapa predator keong mas

Adalah burung dan itik, kura-kura, ikan serta insekta. Penggembalaan itik di lahan persawahan, merupakan pengendalian yang efektif, dengan tanpa merusak padi yang telah ditanam. Sistem ini dikenal oleh masyarakat dengan sebutan ISG (itik sistem gembala). Penebaran jenis ikan tertentu yang dapat memakan keong mas (dan juga telurnya) akan memberikan keuntungan dalam pengendalian populasi keong tersebut. Jenis ikan-ikan yang mampu memakan keong mas ataupun juga telur keong mas tersebut antara lain Botia sp; Tetraodon sp; Bunocephalus sp., dan Leiocassis sp (sejenis lele-lelean); kelompok Cichlidae, kelompok gurami (gurami, sepat), beta, dan lain-lain. Sistem ini telah lama dikenal masyarakat Indonesia dengan nama mina-padi. Pada sistem ini, manajemen air untuk memberi kemungkinan dapat memakan telur juga mesti dilakukan, sehingga peluang menetas dan berkembang biak keong dapat diputuskan.

10. Pengendalian dengan Kimia

Dengan bahan aktif niklosamida dengan merk dagang Bayluside 250 EC atau Boss 250 EC atau dengan bahan aktif metaldehid dengan merk dagang Metapar 99 WP dan Siputok 5 G atau dengan bahan aktif saponin dengan merk dagang Moluskil 10G yang mengakibatkan keong akan menjadi kering dan mati.. Bahan kimia ini biasanya dicampur dulu dengan dedak halus biasanya dengan perbandingan 1 : 20 di media. Ulangi sampai keong sudah tidak ada lagi.

Penggunaan bahan kimia yang tidak merusak lingkungan dapat juga direkomendasikan. Asam anakardat yang diekstrak dari minyak kulit jambu mete, telah diuji-cobakan dan dapat membunuh keong mas (Rudyanto dan Mercellino, 2006). Teaseed meal merupakan obat yang umum di pasaran, untuk membunuh keong mas, dengan harga sekitar Rp 3.000,00,- per kilogram. Selain itu, dapat juga digunakan saponin, tembakau, dan bibit pinang sebagai bahan pengendali (pembunuh) keong mas

11. Penggunaan garam dapur.